Kamis, 28 Juni 2018

Q-NET DAN ACARA SETTINGAN PARA “UPLINE”



Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Minggu tanggal 24 Juni 2018 saya di ajak teman mengikuti sebuah acara yang diselenggarakan di Indrapura, Kab. Batubara (Sumatera Utara). Teman saya ini baru saya kenal sekitar seminggu melalui aplikasi chatting. Sebelumnya saya menanyakan kepada dia mengenai acara apa, kegiatan apa dan tujuannya apa, namun teman saya ini tdk mau menjelaskan secara detail, dia hanya mengatakan bahwa ini adalah acara yang dilakukan perusahaan tempat dia bekerja. Dia mengajak saya menginap di rumah teman nya dia yang laki-laki, agar kami esok harinya bisa berangkat bersama-sama dengan bus yang telah mereka sewa. Namun karena masih ada urusan dengan orang tua di Rumah, saya tidak jadi ikut serta pergi dengan rombongan mereka. Saya berangkat sendiri dari Rumah saya ke lokasi yang kebetulan tidak bgitu jauh dari tempat tinggal saya, kira-kira 25 KM.

Pada hari H, berangkatlah saya ke lokasi acara kegiatan tersebut. Sampai di lokasi saya melihat sudah banyak orang di dalam sebuah Aula dan sedang menonton video yang ditampilkan melalui proyektor, tempat tersebut berada di sebuah cafe. Selama saya mengikuti acara yang berlangsung dr pukul 08.00 sd 13.00 tersebut, saya mendengarkan beberapa peserta teriak-teriak dan bersorak tidak jelas. Terus terang Saya terkejut dan bingung mengenai acara ini. Dlm video yang diputarkan itu menceritakan orang yang “sukses” dan “kaya” krna menjalankan bisnis Q-NET. Profil orang diceritakan bisa dibilang “membanggakan” krna mereka memulai bisnis ini dari nol. Profesi awal mereka bermacam ada yang supir angkot, tk. Tambal ban, karyawan bengekel (anggapan orang awam “profesi orang susah”). Kondisi mereka skrg “180 derajat” berubah; harta mereka banyak mulai dari mobil2 mewah, Rumah mewah (seperti rumah Anisa Hasibuan; desainer terkenal dan pemilik PT. First Travel) dan sepeda motor kelas atas.

Selesai sesi “nonton bareng” kemudian masuklah host atau MC acara tersebut, nama MC nya saya lupa, tapi yang saya ingat dia bermarga br. Hombing. Setelan pakaiannya sepertinya mahal, mulai dari blazer, sepatu dan gaya make-up nya yang menurut saya agak kampungan dan norak. Kemudian dia menjelaskan diri mulai dari latar belakangnya dulu yang berprofesi sebagai kasir sebuah restoran, tamatan hanya SMA, tinggal di kampung daerah Sidikkalang (Sumatera Utara) sampai kondisinya saat ini setelah bergabung di Q-NET. “katanya” saat ini hidupnya berubah “180 derajat” setelah gabung ke Q-NET dia bepenghasilan $625 (sekitar Rp8.750.00) setiap bulannya. Selama berbicara di depan “peserta” dia selalu mengelu-elukan Q-NET bagaikan “tuhan” mereka. Suaranya yang lantang saat menjelaskan Q-NET serta disambut oleh teriakan-teriakan “panitia” acara membuat suasana aula menjadi semakin bising. Sesi selanjutnya MC mempersilahkan seorang wanita yang dia sebut sebagai “upline” masuk. Terus terang saya merasa aneh dan mulai curiga cara masuk para “upline” mereka tersebut. Aneh kenapa?.. Saat mereka masuk para “panitia” atau member harus berdiri bak menyambut seorang raja atau ratu di sebuah acara yang sakral. Mereka berdiri membentuk pagar betis sambil bertepuk-tepuk tangan (kebetulan diiringi musik hip-pop dan disco) dan tak ketinggalan teriak-teriak mereka yang mirip penonton bayaran (anak-anak alay) yang ada di acara Dasyat, Fesbuker dan acara alay lainnya. Selain itu pada saat dia masuk dia dikawal oleh 4 orang ( 2 cewek dan 2 cowok) dengan formasi 2 orang di depan dan 2 orang di belakangnya, pokoknya mirip seperti mengawal seorang ratu atau pejabat setingkat presiden atau menteri yang akan naik ke panggung, bahkan menurut saya bahkan yang ini berlebihan. Setelan pakaiannya juga menurut saya sangat norak seperti MC nya lengkap dengan kacamata hitamnya.

“Upline” mereka yang pertama ini bermarga br. Manalu, “katanya” dia tinggal di Jl. Kesatria, Kota Tebing Tinggi. Setelah berdiri dan menjelaskan diri. Lagi-lagi dia bercerita bahwa dulu dia bersal dari orang susah yang tinggal di daerah Balam (Riau), orang tuanya tukang bangunan serta kerja di lading sawit. Sebelumnya dia bekerja sebagai karyawan koperasi di tebing tinggi, gaji Cuma 1 ikat ( 1 juta), tamatan SMK, bla..bla...dan lain-lain. Dia bercerita setelah mengikuti Q-NET hidupnya juga berubah “180 derajat” dalam waktu 8 bulan dia sudah bisa membeli mobil Fortuner, liburan ke luar negeri, naik pesawat, foto dengan Rio Haryanto (mantan pembalab F1) ke stadion Manchaster City, dll. Dia juga menjelaskan harga pakaian, sepatunya yang dari luar negeri, jam tangan harga 30 juta buatan jerman. Pokoknya elite dan borjuis lah (Sesuai Video yang mereka tampilkan sebelum mempersilahkan “upline” ini masuk) yang inti nya supaya orang ikut/tertarik bergabung dengan Q-NET. Selama dia presentasi ada 2 orang cewek pengawalnya yang berdisi di samping papan tulis sambil memegang tissue, spidol, air mineral, penghapus. Selain itu pada saat si “pengawal” memberikan sesuatu yang dibutuhkannya untuk presentase, 2 pengawalnya selalu membungkuk padasaat memberikan kepada si “upline” 

Luar biasa dan sangat norak kali kan??!!.. kasih tepuk tangan..prak..prak..prak.. hahahaha

Pada bagian ini ia menjelaskan kelemahan hidup “orang Indonesia” mulai dari;
1.    Menyimpulkan
2.    Sok pintar
3.    Pemalas
4.    Tidak berani/nekat
5.    Gampang menyerah

Secara harfiah, saya menilai sebahagian itu ada benarnya juga, namun dia menjadikan hal tersebut untuk sebagai alat untuk memotivasi semua orang untuk bergabung ke Q-NET. Dijelaskan sangat banyak tentang Q-NET,dari sejarah berdirinya, pendiri-pendirinya, pengikut-pengikutnya, pandangan agama, sampai dengan perijinan Negara dijelaskan dengan tegas. Q-NET Itu bukan sebuah bisnis yang sejenis dengan CNI, MLM, dan  pulsa DBS. Karena Q-NET di dirikan di Negara Inggris yang melarang binis MLM hal itu yang membuat binis ini semakin “menarik” untuk diikuti dan di jalankan. Gaya “Upline” ini sok yang udah palin hebat dan terbilang kasar dalam berbicara, nada suara yang tinggu, pemilihan kata yang kurang pantas dan aksinya yang memukul-mukul papan tulis menambah ketidaksukaan saya kepadanya.

Setelah selesai sesi dia maka masuklah sesi ke 2 yaitu sesi penjelasan tentang cara kerja bisnis Q-NET. Kali ini seorang Pria, lagi-lagi orang batak (terus terang saya jadi malu karne komplotan mereka memang mayoritas orang batak) bermarga Sinaga. Dia Tinggal di Tebing Tinggi (sama dengan Si Cewek). Kembali, dia juga masuk seperti cara masuk “upline” pertama, dan ini lebih mewah lagi; 3 pengawal wanita berjalan di depannya dan 3 pengawal pria di belakangnya, jadi ada 6 orang total pengawalnya masuk ke aula. 

Aula tempat acara ini berlangsung yang mungkin kalau para pembaca lihat atau ada di acara itu secara langsung, pasti muak, marah, aneh, lucu, norak (katrok/ndeso) tidak menyangka akan hal tersebut. Bagaimana tidak?!!.. aula yang menurut saya kumuh dan kelas cafĂ© dijadikan tempat pertemuan atau acara seminar bisnis yang “pembicara”nya saja dilakuakn pengawalan ketat, lengkap dengan seragam Blazer, Jas, Sepatu Mahal, Jam tangan berharga 30 juta, belum lagi para “panitia” dengan pakaian Taxido (rompi) untuk laki-laki, Blazer untuk perempuan, Sepatu dan alat-alat lain yang “katanya” seba mahal dan berkelas. Pakai logika anak TK (Taman kanak-kanak) saja pasti tidak akan percaya, apalagi kalangan terpelajar apalagi orang dewasa. Sanagat jelas sekali bahwa ini dalah acara settingan atau rekayasa yang sengaja dibuat untuk menjebak lebih banyak orang bergabung di Q-NET.

Penjelasan “upline” ke 2 tidak jauh berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya (sebelum dia masuk mereka menampilkan video editan mereka yang isi video tersebut kondisinya tidak jauh berbeda dengan “upline” pertama), yaitu: perkenalan diri, berasal dari kalangan miskin, pendidikan hanya SMP, profesinya dahulu hanya tukang bangunan, supir truk buah sawit, supir angkot. Namun “katanya” dia saat ini juga sudah sukses, punya Ninja Warior dan Mobil Terios pokoknya berubah “180 derajat”. Sebelum menjelaskan cara kerja Q-NET, terlebih dia menjelaskan “The Cashflow Quadrant” karangan/pendapat orang terkenal Robert Kiyosaki. Sama seperti yang pertama, selama dia presentasi, 2 pengawal pribadinya berdiri di samping papan tulis memegang alat keperluan presentasinya. Setiap memberikan alat tulis dan air minum bahkan tissue untuk melap kringatnya, pengawal tersebu harus menunduk. 

Norak banget ya??
 
Pada penjelasan si “Upline” ke 2 ini lebih lama dan terus terang saya lebih tidak suka lagi. Sebenarnya saya sudah ingin meningglkan lokasi tersebut setelah tahu saat MC dan “upline” pertama masuk. Sebab saya sudah tahu arah dan tujuan acara tersebut, namun karena menghargai teman saya dan agar tidak ngambek (kebetulan teman saya ini cewek yang lumayan cantik, dan pembaca sudah pasti tahu lah “modus PDKT” supaya dia respek sama saya.… hahahahahahahahaha). Menurut dia ada 5 syarat menjadi orang kaya dan sukses di Q-NET.

Syarat Menjadi Kaya Menurut Q-NET:
1.    Identitas diri (KTP,SIM,Pasport)
2.    N.I.K (Nama Ibu Kandung
3.    AW (Ahli Waris)
4.    Paham (Cara Kerja Q-NET)
5.    Membeli 1 kali Produk Q-NET untuk seumur hidup minimal Rp 7.150.000

Selama acarta berlangsung, mereka selalu menekankan dan memberikan contoh, kenapa warga China (tionghoa) di Indonesia lebih kaya dari pribumi, karna mereka bekerja dengan keberanian dan nekat dan sungguh-sungguh. Hellooo…? Logika saja, kalau binis ini bisa membuat orang cepat kaya, sudah pasti orang tionghoa menjalankan bisnis ini bepuluh tahun lalu dan mereka tidak akan mungkin diberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan bisnis ini. Kenyataannya. Sampai saat ini dari sekian teman saya yang Tionghoa dengan latarbelakang yang bermacam-macam, tidak ada yang mengetahui bisnis Q-NET ini. Hahaha. Memang benar Orang tionghoa rata-rata lebih sukses daripada kita, tapi bukan karena cara seperti ini mereka bisa sukses. Merka suskses dengan kerja keras dan usaha yang tekun, hemat, dan berfikir secara logis. Tak ada yang dari bisnis MLM (Skema Ponzi) seperti ini, kalaupun ada itu hanya beberapa orang saja dan mereka tidak masuk dalam kategori “sukses” versi orang tionghoa.

Penjelasan dia akan saya jelaskan sesuai gambar di bawah ini;

Gambar Cara kerja TCO (Q-NET) – Mirip Skema Ponzi
Jadi setiap orang yang ingin bergabung cukup membeli 1 product dari Q-NET, product yang harganya paling murah Rp7.150.000 (baca: Syarat Menjadi Kaya Menurut Q-NET). Setelah membaya maka langsung mendapatkan Hak Usaha di QNET atau disebut TCO (Tracking Center Owner) yang artinya dimana anda memeiliki pusat jaringan sendiri. Pekerjaan yang harus dilakukan cukup mudah, yaitu hanya dengan mencari teman lebih banyak lagi untuk ikut dalam bisnis yang mengatasnamakan Q-NET. Jika mampu merekrut 6 orang untuk ikut dibawahnya atau menjadi anak buahnya maka Q-NET akan memberikan anda uang sebesar $225/6orang. Dan begitu seterusnya. Hal yang perlu dilakukan ketika mulai bergabung yang paling utama adalah minimal harus bisa merekrut 2 orang untuk dijadikan orang dibawahnya. 2 orang tersebut minimal sudah menjadi teman anda untuk ikut merekrut orang lebih banyak lagi. Bayangkan saja dengan kurs mata uang dolar saat ini Rp 14.000 maka kita tinggal kalikan saja setiap ratusan sampai ratusan ribu dolar yang kita hasilkan. Siapa yang tidak tergiur dan tertarik untuk bergabung. 

Selama presentasi dia selalu menjelek-jelekan orang berpendidikan, yang pendidikan diploma dipanjangkannya sampai D7, pendidikan strata disebutnya Es-teler dan Profesor menjadi Compressor. Mereka merendahkan pegawai/karyawan serta PNS sebagai dan meyebut profesi itu sebagai budak. Saat “Upline” menjelaskan hal-hal ini, rasanya pengen muntah dan memaki-makinya tapi kembali lagi, saya segan dan tidak enak dengan teman saya. Bahasanya sedikit mengancam; dia mengharapkan orang tidak gabung di Q-NET mati ditabrak mobil di jalan saat pulang dari acara tersebut, cepat bertobat, yang intinya seperti ini: MANUSIA YANG MEMILIKI HARPAN =  GABUNG KE Q-NET, MANUSIA YANG TIDAK MEMILIKI HARAPAN = MATI, MANUSIA YANG TIDAK GABUNG KE Q-NET = MANUSIA YANG TIDAK MEMILIKI HARAPAN. Hal yang paling membuat saya ka nada tidak sengaja tertawa adalah saat dia menjelaskan bahwa jaminan uang calon pemilik TCO adalah hanya di selembar perjanjian dengan dirinya diatas materai 6.000, Kalau kurang, dia akan menjaminkan mobilnya, Sepeda Motor Wariornya dan lebih gila-nya lagi dia menjaminkan kepalanya sendiri sebagai jaminan perjanjian TCO tersebut. Mungkin menurutnya semua orang yang ada di ruangan itu adalah orang-orang yang bodoh, udik, kampungan seperti para “panitia” (komplotan mereka), member atau calon member mereka yang sudah berhasil mereka jebak termasuk teman saya itu, Sedangkan “perjanjian” yang sudah ditandatangi perusahaan, saja masih ditipu padahal sudah punya legalitas hukum, terdaftar dilembaga pemerintah dan terkenal diseluruh Indonesia. Contohnya: First Travel, Abu Tour, Pandawa Group, Cipaganti, dan masih banyak lagi.

Setelah Prentasi ke-2 selesai MC masuk dan melanjutkan acara settingan ini. MC langsung memanggil member yang pada minggu atau bulan tersebut mendapat komisi (dalam istilah mereka: turun komisi), semua dipanggil satu persatu. Dan bisa ditebak, orang-orang yang dipanggil naik semuanya “panitia berompi”. Komisi yang mereka dapat adalah bentuk “cek” mata uang dolar Amerika (US $) yang dibungkus dalam sebuah amplop putih. Komisi yang dibacakan mulai $225 sd $745. Tapi anda berfikirlah dengan jernih, itu semua bukan cek atau uang seperti yang dijelaskan. Itu semua hanya amplop kosong atau ampolop yang berisi kertas biasa. Kalaupun benar uang dolar yang pasti itu bukan uang mereka tapi uang “ka nada” mereka. Karena itu sudah mereka setting supaya kita percaya.

Sebelum keluar dari ruang aula, MC mempersilahkan 4 orang memberikan kesaksian mengenai bisnis QNET ini. 2 orang laki-laki dan 2 perempuan. Dan lagi-lagi pengakuan ini yang membuat saya sah sebagai acara settingan. Ada beberapa poin penting dari kesaksian mereka, bahkan saya jadi hapal semua naskah “acting” mereka, yaitu;

“Semangat Pagi, Ora Umum.. (kemudian bercerita bla-bla-bla). Ini acara dan bisnis luar biasa, Saya berasal dari kampung-kampung (sambil menyebutkan kampungnya masing-masing: yang saya ingat mereka ada dari daerah pedesaan Rokan Hulu; Kasikan-Kab. Kampar; Raya-Kab. Simalungun; dan Pedesaan Kab. Dairi), pendidikan rendah, orang miskin, umur…(tak lupa mereka menyebutkan umur mereka; yang berkisar 18 sd 23 tahun), bagaimana tua? (langsung disambut penonton bayaran atau penonton settingan yang tak pernah diam selama acara:..”tua mas/tua mbak”) tak mengapa tua yang penting saya memiliki impian,… bla-bla-bla. Saya sudah sudah turun komisi (sesuai “komisi settingan” mereka). Impian saya sebentar lagi, saya bisa membeli 1 ninja Warior harga 60 Juta ( kembali langsung disambut penonton bayaran:..”luar biasa”).

Hampir 95% kalimat yang mereka ucapkan sama (mungkin naskahnya sudah seperti itu) tidak terkecuali perempuan dan laki-laki. Semua nya sama:
1.    dari kampung, orang miskin,
2.    tidak berpendidikan
3.    dahulu kerja jadi bidan, penjaga kolam, supir, tukang (pokoknya gaji nya kecil)
4.    kata-kata “tua?”, punya impian.
5.    Yang paling  membuat saya tidak bisa menahan tawa adalah ketika keempat orang tersebut memiliki impian yang sama yaitu dalam waktu dekat ini mereka akan membeli ninja warrior seharga Rp 60 Juta.

Lucu ya, ?.. hahahahahahaha… keempatnya mau beli ninja warior belum lagi orang yang berdebat denga saya pada saat makan siang (baca di percakapan). Sepertinya bulan depan (Agustus 2018) PT. Meganusa Semesta (Main dealer Kawasaki di Sumatera Utara) harus menyediakan stock Ninja Warrior yang banyak, karena permintaan Ninja Warrior Kawasaki Ninja 250 akan membeludak dari para member Q-NET, dan bisa dipastikan karyawan mereka akan mendapat bonus besar-besaran dari atasan PT. Meganusa Semesta. Hahahaha. Lol. Itu masih Ninja Warrior, belum lagi Mobil Fortunes dan Pajero Sport. Kwkwkwkwkwk..

Saya saat ini berfikir/curiga bahwa teman saya itu adalah bagian dari komplotan jaringan mereka untuk menjebak banyak orang termasuk saya (walau mereka tidak berhasil menjebak saya).

Tepat Pukul 13.00 WIB sesi presentasi ke-2 telah selesai. Para peserta dipersilahkan keluar dan makan siang yang telah mereka sediakan. Makan siang seadanya yang paling sederhana, bisa dibilang ASMA (asal mateng) saja, maklum supaya irit dan dana sindikat tersebut sangat terbatas. Para peserta seminar Q-NET dipersilahkan makan dan minum di luar ruangan atau di halaman sekitar aula. Pada saat makan peserta pemula (calon member; seperti saya) akan didatangi oleh para panitia yang sudah ditugaskan khusus oleh para “upline” untuk menjelaskan, mengajak, dan memastikan peserta pemula itu agar bergabung. Pengamatan saya teman/kenalan peserta pemula yang mengajak mereka ke acara tersebut sepertinya tidak ikut bertindak secara langsung menjelaskan, karena menurut saya ka nada dampak psikologis yaitu; menghindarkan rasa sungkan dan cekcok kemudian hari antara “orang yang mengajak” dengan “calon member” bilamana tidak jadi bergabung. Sebab, selama diskusi itu berlangsung “Panitia berompi” bebas menyampaikan kata-kata kepada “calon member” baik itu kalimat yang halus dan ramah, kalimat dengan nada menyindir, dan bahkan kalimat yang cukup kasar. Apapun akan mereka lakukan supaya calon peserta mau ikut bergabung dengan bisnis Q-NET ini. Posisi duduk para peserta pada saat makan tersebut sangat berjauhan dan memang disetting seperti itu, sebab mereka juga menghindarkan suara percakapan antara calon member lain dengan “panitia berompi”. Mungkin saja bisa mempengaruhi niat calon member tidak jadi gabung ke Q-NET (misalnya; saya). Karena terus terang selama saya debat suara mereka kuat dan saya juga kuat dan ngotot mempertahankan argument masing-masing.

Pengalaman saya pada saat diskusi, para “panitia berompi” berganti-gantian menjelaskan kepada saya; tujuan, alasan, hasil, bukti, logika berpikir dari mereka supaya cepat kaya. Rata-rata mereka adalah wanita. Terus terang selama saya berdebat dan diskusi dengan mereka saya tersinggung dan sedikit emosi. Kenapa? Mereka merendahkan atau seperti menjelek-jelekan saya, mungkin mereka sudah tahu bahwa saya tidak suka dengan bisnis ini atau intinya tidak akan bergabung dengan bisnis Q-NET. Karena selama debat saya juga memberikan alasan yang kuat, sampai-sampai “panitia berompi” bergantian berbicara dengan saya bahkan keroyokan 3 vs 1 orang. Hahahahahaha, seingat saya ada kalimat psikologis dari mereka kepada saya yang mengundang emosi dan ketidaksukaan saya kepada bisnis ini, berikut beberapa percakapan yang saya (S) ingat dengan mereka (M):

M: “emang bapak kuliah apa dulu”
S: “Cuma lulusan S1 Ekonomi”
M: “wah orang pintar lah bapak ya?’’
S: “gak akh biasa aja, banyak teman saya lebih pintar dari saya”
M: “bapak S1 ya?,saya udah Es teller Pak.”
S: “ohh.. pantes cara berbicara kalian seperti orang udik yang tidak berpendidikan”
M: “udah kerja berapa tahun”
S: “ya.. baru 4 atau 5 tahun lah”
M: “udah kerja 5 tahun, udah banyak lah harta kamu ya?, rumah, mobil. Trus emang udah apa aja yang kamu hasilkan?
S: “gak sebanyak itu lah, paling ada sepeda motor (sambil menujuk sepeda motor NEW Vixion R saya. Terparkir tak jauh dari kami duduk), tabungan deposito di bank, 2 asuransi jiwa, sedikit tabungan, ya.. bisa membanggakan ke-2 orang tua, beberapa kali memberi hasil gaji ke orang tua, bantu sedikit-sedikit orang tua nyekolahin 3 adek saya, membelikkan HP kepada 3 adek saya, ya pokoknya adik2 saya bangga lah ke saya.
M: “Ohh.. baru punya motor butut ya pak?, udah lunas motornya?”
S: “wah.. terus terang. Saya beli barang gak pernah ngutang. Apaun itu!”
M: “mana lebih hebat, kedua orang tua saya yang PNS atau cuma kamu yang pegawai swasta”
S: “saya gak bisa bilang saya lebih hebat dari orang tua kamu dan orang tua mu lebih hebat dari saya. Tapi yang jelas saya lebih hebat dari kamu atau kalian bertiga. Emang nya kalian bertiga udah bisa seperti saya?, jawab jujur ya..!!
M: (dengan nada geram)“gak usah sombong kau, masih karyawan, biar kau sadar ya, kamu itu Cuma budak!!, tapi dengan gabung di sini kamu bisa jadi bos, gak liat buktinya nya tadi. Mereka udah punya mobil yang banyak, rumah mewah, mobil, ninja warior. Kamu gak ada apa-apanya dibandingkan mereka.!! Hidup tanpa harapan lebih baik mati”
S: “So, Apa harapan kalian?
M: (secara bergantian dan kroyokan ngomongnya) “ya.. dalam waktu dekat ini impian kami gak banyak-banyak. Kami mau beli mobil, rumah, sepeda motor warrior”
S: “jadi kalian semua udah punya lah ya, minimal warior? Hahahaha. Jangankan warior, makan kalian dikasih sama bos hanya ikan alakadarnya sama beras catu, sama kaya menu makan yang kalian kasih hari ini. Tempat tinggal mess kalian aja kyak ikan sarden, 1 mess tapi isinya puluhan orang. Jangan cerita lah ke saya, kesini aja kalian itu dibayari sama bos kalian nyewa bus harga murah. Kalian liat aja aula kalian ini, ditempat kumuh, jauh dari kota ke kampung-kampung. Aku tau kenapa? Kalian gak sanggup nyewa gedung di medan atau di kota, terus kalian juga takut di ciduk ama polisi. Biar kalian tahu ya, aku ini bukan anak baru lahir kemaren sore. Bisnis kalian ini terselubung, maka nya gak berani tampil di kota. Dan semua acara kalian ini Cuma setingan. Paham!!

Kemudian diskusi kami terputus karena “panitia” lain menyuruh semua peserta kembali masuk untuk mengikuti acara terakhir. Karena sudah tahu dari awal motif acara ini, bosan dan merasa kesal dikibuli teman sendiri, akhirnya saya pulang. Saya pamit dengan mereka dan teman yang ,mengajak saya ikut ke acara ini. Saya lihat “dia” menunjukkan rawut wajah yang cemberut dan kecewa, karena saya pulang dan tidak ikut bergabung dengan bisnis Q-NET. Banyak panitia dan “dia” membujuk saya mengikuti acara terakhir dari “upline” mereka, namun dengan lembut dan sopan saya menolaknya, berpamitan pulang. Saya tidak mau terjebak lebih dalam lagi dengan mereka, langsung saya “stater” sepeda motor saya dan pergi meninggalkan tempat. Padahal rencana kami sebelumnya  setelah acara ini selesai saya mau bawa “si dia” jalan-jalan ke Tebing Tinggi (Kampung saya) atau mengantarkan pulang dengan sepeda motor saya, namun hal itu tidak jadi. Sebab, kalau saya menikuti acara terakhir tersebut saya pasti terjerumus dan terjebak atau malah timbul hal yang tidak diinginkan. Karena, saya curiga para “upline” nya pasti memiliki “alat” rahasia lain, misalnya: gendam, hipnotis atau praktek psikologis lain, malum karena meraka sudah pasti ahli dalam meyakinkan orang.


Penutup dan Kesimpulan Mengenai Q-NET
1.      Menurut bisnis sejenis Q-NET ini adalah bisnis Penipuan. Mungkin bila anda melihat secara langsung anda akan yakin itu adalah hal yang benar. Tapi satu hal yang perlu anda ingat semua hal itu adalah settingan belaka yang dikemas sebegitu bagusnya sehingga banyak percaya dan ikut bergabung ke dalam bisnis Q-NET. Bila ada orang menyatakan dia telah berhasil menjalankan bisnis ini, jangan langsung percaya. Jangan Percaya jika Aparat (Polisi dan TNI) ikut gabung dan sukses di Q-NET, itu sebagai meyakinkan anda saja bila binis ini aman, secara aparat juga ikut gabung binis ini. Padahal ada posisi yang didemo oleh para korbannya dan langsung mendatangi markas di mana mereka bertugaas. Sebagai manusia yang diberikan akal untuk berfikir kritsis dan logis. Jangan percaya dengan stelan pakaian mereka yang “wah” dan kendaraan super mahal yang ada pada mereka. Ingat itu hanya Settingan biar anda percaya.
2.      Bila anda ingin bergabung ke dalam bisnis sejenis itu, anda seharusnya harus terlebih dahulu membuktikan hal itu seakurat-akuratnya dengan berbagai sumber yang ada.  Contohnya anda bisa searching di internet atau google, Tanya kepada orang lain, dll. Karena ketika saya berdebat dengan para “panitia berompi” (member), saya sedikit menjelaskan bahwa sebelumnya sudah tahu bisnis Q-NET dari teman dan Serching dari Google. Ekspresi mereka seperti “cacing kepanasan” dan sedikit marah. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis ini adalah penipuan. Mereka tidak mau kedok mereka terbongkar.
3.      Berhati-hatilah berteman atau menerima ajakan dari teman dalam mengikuti acara yang mereka sendiri tak mau menjelaskan acara itu secara jelas. Seperti saya; teman saya tidak mau menjelaskan dan dia hanya memberi tahu itu adalah acara gehtring dari perusahaannya.
4.      Bila ada tawaran pekerjaan yang tidak jelas dengan pengasilan/gaji yang diluar logika, jangan mau. Karena sudah banyak korban yang telah mereka jerat dengan modus seperti ini. Kebanyakan korban memang dari wilayah terpencil dan jauh dari keramaian/kota. Sebab orang-orang yang tinggal dari “pedalaman/terpencil” lebih mudah untuk mereka bodoh-bodohi. Mereka awalnya membuka lowongan kerja (persis seperti status teman saya tadi di akun aplikasi chatting;- “lowongan pergudangan”), lowongan kerja elektronik (Pekanbaru dan Jambi), Lowongan mekanik (wilayah Lamongan, Surabaya, Pekalongan di pulau Jawa) dan lowongan tambang (di Pulau Kalimantan).
5.      Menurut info yang saya dapat, para korban yang mereka rekrut akan ditempatkan di wilayah yang sangat jauh dari tempat mereka tinggal. Contohnya jika korban “lowongan kerja” itu berasal dari Aceh dengan dijanjikan kerja di area Riau, maka pada kenyataannya akan ditempatkan di daerah lain yang lebih jauh, seperti Batam, Pulau Jawa, bahkan Kalimantan dan Sulawesi. Selain itu, para korban juga akan dimintai sejumlah uang antara Rp 7.500.000 sd Rp 8.000.000 sebagai modal masuk kerja, yang pada kenyataannya uang itu digunakan untuk membeli produk dari Q-NET tersebut (Hak TCO), bahkan ada lagi yang menahan izasah para korban sebagai zaminan “kerja” para korban. Hal inilah paling utama (selain sulitnya mencari pekerjaan) yang membuat para korban akhirnya mau bergabung dengan Sindikat bisnis ini.
6.      Hati-hati jika berdebat dengan para member mereka (sindikat jaringan). Mereka dengan notot akan berdebat dengan anda, Walaupun “katanya” mereka hanya lulusan; SD,SMP,SMA, dll. Kalau dalam istilah orang Medan mengatakan “nyari seri/imbang saja susah apalagi menang”. Sebab, mereka sudah mendapatkan pelatihan khusus selama berbulan-bulan setiap hari atau “cuci otak” oleh paraUpline/Leader/Bos/Pimpinan di wilayah mereka beroperasi.
7.      Menurut Hukum dan Agama Islam (dari artikel yang saya baca – saya sertakan juga link artikel tersebut) bahwa bisnis ini adalah haram. Walaupun pada presentasi atau penjelasannya itu sudah halal dalam istilah jual-beli, namun pada kenyataannya tidak. Mereka mungkin sudah ada bukti NPWP – karena semua badan usaha di Indonesia ini harus ada no. NPWP nya. Mungkin Juga mereka terdaftar di Badan yang mengatur jual beli – tapi kerja binis ini tidak ada sangkut pautnya dengan legalitas tersebut. Mungkin juga mereka sudah ada sertifikat dari Badan Keagamaan, bisa jadi Sertifikat itu sudah tidak berlaku lagi (expired - Kadarluarsa).
8.      Sistem binis ini adalah sejenis dengan MLM, walau mereka menyatakan dengan keras mereka bukan MLM. Tapi system cara kerjanya tidak ada yang berbeda dengan MLM ataupun Sistem Ponzi (Money Game). Sebab, mereka membutuhkan “kaki di kiri dan kanan” yang akhirnya  akan membentuk piramida segitiga. Khusus MLM dan Sistem Ponzi (Money Game) akan saya jelaskan di artikel selanjutnya.
Sekian penjelasan dan cerita dari saya. Saya berharap tidak ada lagi korban dari Bisnis Q-NET atau bisnis sejenis ini yang bertambah. Sebagai warga yang baik kita harus ikut serta tanggungjawab dan mencegah jika ada korban yang akan terjerat, peduli (care) dengan sesama, jangan bersikap apatism. Terlampir juga saya sertakan bukti-bukti link dan link video yang membuktikan bahwa bisnis ini adalah penipuan dan anada bisa cari sendiri dengan Apliakasi pencarian mengenai Q-NET. Silahkan tinggalkan Komentar anda di bawah.

Link berita penipuan Q-NET